Bapak Sudiharjo menikah dengan Dra. Rr. Isyanti pada hari Sabtu tanggal 28 Maret 1987 dan telah dikaruniai dua putrid. Putri pertama bapak dan ibu dukuh, yaitu Eka Yuni Purnamasari sedang menuntut ilmu di Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2006. Sedangkan putrid kedua mereka, Listiana Ricky Dwi Utami, saat ini adalah mahasiswiFakultas Peternakan UGM angkatan 2007.
Sudah kurang lebih 26 tahun 7 bulan lamanya Pak Sudiharjo mengemban tanggung jawab menjadi Kepala Dusun Jongke Lor. Pengangkatan Pak Sudiharjo menjadi kepala dusun berdasarkan SK no.12/KPPS/1983 tanggal 30 Oktober 1983 dan telah disahkan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sleman no.15/IB/PEM/1983 tepat pada tanggal 10 November 1983. Selama menjabat, telah terjadi banyak perubahan yang terjadi pada Dusun Jongke Lor selama 27 tahun terakhir ini. Pada awalnya, perubahan fisik belum banyak terjadi. Namun, saat ini masyarakat Dea Sendangadi sudah dapat menikmati fasilitas sarana dan prasarana fisik seperti jalan desa yang sudah diaspal dan dikonblok hamper 90% sudah diperkeras. Perubahan di aspek padukuhan juga terasa cukup signifikan. Pada awalnya terdapat 436 penduduk dusun, namun sekarang sudah hamper 987 penduduk dari RT 1 sampai RT 6. Ketika menjabat, Dususn Jongke Lor belum memiliki satupun tempat ibadah.Namun, saat ini sudah terdapat 4 masjid dan 1 musholla di Dusun Jongke Lor yang tersebar hamper di seluruh RT. Selain itu, saat ini semua warga telah memiliki fasilitas listrik yang masuk ke Dusun Jongke Lor pada tahun 1985di RT 3 Gilingan dan Tegalmulyo. Disusul oleh masuknya fasilitas listrik di Dusun Jongke Lor , Sanggrahan, dan Gondangan Penen bertepatan pada hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1988. Kurang lebih 30% warga Jongke Lor sudah memiliki fasilitas telepon rumah. Sedangkan untuk jalan Mulungan-Gondangan Penen sendiri diaspal pada bulan November 1988 oleh para pemuda Sleman. Sedangkan jalan aspal Sanggrahan-Jongke Tengah dibangun tahun 2008.
Menjadi seorang kepala dusun dirasakan banyak memberikan suka duka dalam hidup pria yang menikah dengan Dra. Rr. Isyanti pada harii Sabtu tanggal 28 Maret 1987 ini. Beliau merasa senangdapat memberikan tenaga dan pikirannya demi kemajuan Dusun Jongke Lord an berbahagia bias dekat dengan para warga dusun. Segala sesuatu yang telah terjadi selama 27 tahun terakhir ini terus disyukuri oleh Pak Sudiharjo dan keluarga, diterima dengan lapangdada tanpa adanya rasa pamrih.
Bapak juga mengatakan bahwa beliau sangat bangga terhadap semangat para pemuda Jongke Lor yang mau memberikan kontribusi tenaga dan waktunya untuk memeriahkan acara HU RI di Dusun Jongke Lor. Menurut beliau, hal itu merupakan suatu bentuk kepedulian pemuda tehadap negrinya sendiri. Namun, beliau juga menghimbau agar acara tersebut tidaklah terkesan seperti menghambur-hamburkan uang semata. Penghayatan dan makna 17-an itu sendiri juga harus dipahami oleh pemuda dan anak-anak, bukan hanya sekedar perlombaan saja tapi juga hal-hal yang ersifat seremonial dan tradisi dari tahun ke tahun, seperti acara tirakatan dan tabor bunga. Selain itu juga yang bersifat monumental seperti membangun talud dan pengerasan jalan yang sifatnya bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.